Tuesday, July 14, 2009

Friday, July 3, 2009

"Truth"



I knew someone who always search for the truth in his whole life. Selalu mempertanyakan dirinya dan mempertanyakan prestasi apa yang telah ia buat. Selalu berusaha untuk melakukan sesuatu hal yang 'benar', 'on the right track', dan seterusnya.

Dulunya, saya rasa saya juga seperti itu. Saya mengukur segala sesuatu dari prestasi yang bisa saya capai. Tinggi. Pintar. Hebat. Inovatif. Deep. I hold the depth of life as something lies behind great ideas and hard work(if suffering include inside, even much better). But then I have a boyfriend. Having spouse is something able to change yourself. He makes me see things from a very different point of view. We have an intense relationship, but how intense it was, I've just found out the effect when we're in a plan for a wedding. And also, a few first months of our marriage.

I also learn a great deal on my first years getting jobs. I always wanted something make me 'think'. I appreciate myself as a thinker. Even though I might already realize I still don't have 'something' to make people listen to me. Saya begitu inginnya dilihat. dihargai. Tapi, saya sendiri sebenarnya belum sampai pada tahap apapun. In life. Dan pekerjaan yang saya kira membuat saya "berpikir" ternyata tidak cocok untuk saya. Dan saya pindah. Pada cinta masa kecil saya: menggambar. Dan lalu saya tidak peduli lagi. Saya merasa lepas dari kandang macan. Dan saya merasa hidup di negeri pelangi.

Saya kemudian melihat bahwa hasil yang baik tidak selalu berasal dari usaha setengah mati. Don't get me wrong. Saya bukan mengatakan kerja keras tak ada artinya, lho. Hanya saja begini: Saya seringkali jalan-jalan di Deviantart.com. Dan setengah mati iri pada artis2 tak dikenal namun berbakat besar. Pada gambar2 yang memampangkan dirinya di depan saya dengan cerianya. Juga saya dulu punya teman di konsultan arsitektur yang selalu pulang on time. Yang ajakannya selalu main dan jalan-jalan. Tapi setap kali ia membuat preliminary, bos saya menatapnya kagum, "pintar sekali anak ini ya". Sedangkan saya, yang sudah mati2an lembur dan mikir,I still on that stage.

Sejak pindah ke KUARK, saya lebih loose. Saya kemudian mencoba cara baru: lebih santai dan lebih percaya kepada hidup. Have I quoted this paragraph before? Salah seorang suster dari Tarekat Cinta Kasih (Ibu Teresa) mengatakan begini:

"Yang harus kami lakukan adalah tugas kami hari ini. Apa yang terjadi besok, adalah urusan besok. Tuhan menyediakan segala yang kami butuhkan, tepat pada waktunya. Bila suatu komponen dalam pekerjaan kami tidak tersedia, artinya pekerjaan itu belum saatnya terjadi"

Mungkin itu ya... keindahan dari berserah. Kadang kita berusaha begitu keras untuk mencapai sesuatu. Tapi kadang kita tidak tahu, benarkah apa yang kita tuju itu. Kadang masalahnya hanyalah, kamu berada di ladang yang salah. Kamu menggarap ladang yang salah. Dan memperjuangkan sesuatu yang sia-sia.

Saya kira manusia boleh kok merasa bahagia. Kita boleh kok memilih bidang apa, dunia mana, hal apa yang ingin kita jalani. Menjalani sesuatu yang berasal dari kelegaan hati rasanya lebih ringan. Dan agak susah ya, menurut saya, setiap kali mempertanyakan"Tuhan mau saya ngapain sih...?" Itu adalah pertanyaan yang sering saya lontarkan di masa-masa sulit saya dulu.

Setelah mengenang kembali masa itu, saya kembali merasa bahwa jalan yang saya lalui dulu, yang termasuk juga melewati hal-hal yang tidak enak, bukanlah suatu kesalahan. Hal paling baik yang bisa saya lakukan adalah coba terus. Ketika saya berani memutuskan, berani melompat, saya baru tahu, saat itulah Tuhan bilang "This is your place, kiddo".

Kita memang baru tahu saat kita sudah melakukan. Maka saya percaya pada "Kekuatan dari melakukan". Setiap hari saya masih berusaha untuk melakukan hal yang benar. Setiap kali bertanya-tanya: "Bagaimana cara yang benar berkomunikasi dengan tim saya? bolehkah saya memainkan trik?" atau, "deadline saya terlambat, saya harus bilang apa pada klien?"

Pertanyaan-pertanyaan saya teknis. Sangat spesifik pada pekerjaan yag saya tangani. Kehidupan rumah tangga kami. Persoalan-persoalan keluarga baru. Tapi lewat itulah Tuhan mengajar saya, setiap hari. Setiap hari saya menemukan kebenaran-kebenaran baru. Kadang kecil, kadang besar. Kadang yang kecil-kecil menguatkan hal yang besar. Dan saya tidak khawatir kalau suatu hari nanti 'kebenaran' yang saya temui sekarang ternyata berubah. Saya sudah pernah mengalami bahwa pandangan orang bisa berubah.

Kebenaran datang hal-hal yang kita lakukan dan kita jumpai setiap hari. Berkubang dengan intensif dalam pekerjaan dan keluarga adalah hal yang menuntun kamu untuk mengalami kebesaran Tuhan. Setiap hari. Kita tidak usah berusaha keras untuk menemukan 'kebenaran' itu adanya di mana. Ia adalah kata sifat, yang melekat pada hal-hal di sekeliling kita. Ia bukanlah benda, yang harus didefinisikan....

Wednesday, July 1, 2009

Mau lagiii

hehe...
ada kenalan yang lagi nyiapin wedding. Trus dia nulis di blognya baru keliling2 mayestik untuk nyari wedding dressnya.

Uuuuh aku mau lagiii!
Punya alasan untuk berkitar-kitar di pasar kain, berada di antara sekian banyak motif brokat dan laces...


hmmmm =D
hmmmm =D

Friday, June 26, 2009

....

26 Juni 2009
jumat
8:08 PM

udah dari jam 5 lewat saya nge-hang.
saya ga cape.
ngantuk juga ga.

cuma...ga pengen ngapa-ngapain aja. mandi udah. laper, ga gitu2 amat.
baca novel udah.

...
hang.

Thursday, June 25, 2009

An Illustrator Learn to Design

I'm shocked.
Beberapa waktu yang lalu, saya menerima sebuah pekerjaan desain. Mendesain. Ingat, saya bukan seorang graphic designer. Saya seorang ilustrator. Saya memberi port folio ilustrasi kepada calon(pada waktu itu) klien saya waktu itu. She like those illustrations, jadi dia mempercayakan saya untuk mendesain sekitar selusin item(OK deh, 9) di tokonya. Saya menyebutnya Graphic Accesories. Item-item itu terdiri dari desain ulang papan nama(papan nama toko di pinggir jalan, di bagian luar), signage penunjuk barang(directory), sampai kartu ucapan dan shopping bag ramah lingkungan.

Hal pertama yang saya pertanyakan adalah, "Mampukah saya?akan menjadi seberapa rumitkah hal ini?" Tetapi, saya memutuskan untuk mencobanya. So I accept this project.

Untuk shopping bag dan kartu ucapan, saya masih bermain2 dengan ilustrasi. Oh,tapi, saya sangat stress dengan program vector. Saya ga bisa vector. Tapi percetakan semua mintanya COREL. Photoshop is my hero. And I don't meant to change it. Tapi saya tidak bisa mengelak, toh. Persoalannya sempat berlarut-larut, and this is something I must anticipate next time.

Pertanyaan berikutnya tiba ketika saya sampai pada desain signage barang dan petunjuk lantai. Saya harus mengamati konteks yang lebih besar. Suatu hari saya memutuskan bahwa tidak bisa tidak, saya harus survei ulang. Saya menghabiskan waktu berjam-jam di toko tersebut. Mengamati, mengukur, dan menggambar. Saya berhasil membuat preliminary yang yah, bolehlah. Tetapi masalah (BESAR) datang ketika saya mendatangi kontraktor signage nya.

Dan tiba-tiba saya sadar bahwa selama ini saya bermain di pinggiran. Saya tahu bahwa saya harus terjun lebih dalam, tapi saya berusaha menghindarinya, hingga saya datang ke si kontraktor dan saya harus menghadapi kenyataan: I have to deal with material and measurements and accuracy.

You know? Saya berusaha menghindar dengan anggapan2 "this is design, not architecture". Tapi nampaknya, saya harus mengerjakannya dengan intensitas yang sama. Dengan keribetan yang tak jauh berbeda, dengan dulu ketika saya membuat detail2 mainan anak2 untuk playground(dulu, waktu saya masih arsitek junior). And I try to run cos I don't have enough time. Cos I must start another project next week.

O yea, plus, actually I know this client still have to learn willing to pay more for "design". Dan gue masih saja mendesain dengan naif. Tanpa pertimbangan terhadap material dan budget. What does I have to do? always making back up plan? or maybe think more on the next design. But how bout those preliminary she'd already agree? How bout that? raaaargh. And it's already 3 PM now. Last thursday in June. Great.

Hah.

OK lah. Saya senang telah tersadar.






Tuesday, June 2, 2009

Tiba-tiba Saya Rindu

Tiba-tiba saya rindu pada kesungguhan.

Salah satu sahabat saya mengalami kecelakaan. sekarang ia harus bedtress dan mengalami pemulihan keretakan tulang leher. Saya dan beberapa orang sahabat lainnya banyak arguing mengenai sikapnya yang eksklusif, dimana ia seakan2 membuat ruang yang membatasi kami untuk ikut bergabung.

Saya sendiri, kadang bingung dan kesal,tapi di lain waktu, saya berusaha untuk menjadi...apa adanya buat dia. Yang saya tidak tahu, sejauh mana pilihan2 saya benar -untuknya. Karena tetap saja saya masih merasa kurang me-mantain persahabatan ini.

Lalu suami saya menyebut cozy street corner, dan saya membuka youtube mereka. Dan saya rindu musik akustik. Rindu live performance.Rindu Hari Kemarin. Karena musik akustik live adalah sesuatu yang ia sukai. Dan mungkin menikmatinya bersama bisa membuat kami kembali ke hari kemarin.

Pertemanan yang kita bangun selama ini, dalam lingkup belasan persona ini, benarkah menyelami apa yang ada di dada? Sudahkah memberi ruang pada sahabat untuk berkembang dan menyelami dirinya sendiri? Ada kalanya saya masih merasa sesak dalam lingkup ini. Dan mungkin ketidak percayaan itulahyang kita gambarkanketika kita menghadapinya....sehingga ruang itu ia bangun disekellingnya...dan aku hanya bisa bertamu kapan-kapan.

Aku rindu kehangatan...dari pembicaraan dari hati ke hati dengan sahabat.

Sunday, May 31, 2009

Question

Apa yang dicari dari seorang ilustrator? their personal touch? The concept behind?

Kalau ke khasan seorang artist yang dipentingkan, berarti jumlah order yang bisa diterima terbatas dong. You can imagine,(even) if an illustrator only draw the sketch, they have still have time limitation to do it.

Berarti nilainya dia dong yang harus bertambah terus. Dalam hal industri buku indonesia, I'm not very much optimistic. Even tough a book illustration is not the only kind of job.